Agak Serius Dalam Mempelajari Islam

Agak Serius Dalam Mempelajari Islam
foto : Read quran ( usplash)

Agak Serius Dalam Mempelajari Islam

Oleh: Dr. Mohammad Nasih, Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Pembangun Qur’anic Habits Camp di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE Semarang dan Sekolah Alam Planet NUFO Pilanggowok Mlagen Rembang.

Nabi Isa (Yesus) sekarang sedang apa? Apa perbedaan pandangan Islam dan Kristen soal ini? Berapa lama masa ‘iddah perempuan yang diceraikan oleh suaminya? Bolehkan menikahi anak tiri? Mengapa di dalam surat al-Ashr, manusia disebut rugi? Itu adalah di antara pertanyaan yang saya lontarkan dalam berbagai forum kalangan muslim terdidik untuk mengungkap paradigma mereka.

Bacaan Lainnya
banner 400x400

Jawaban atas pertanyaan saya itu ternyata dijawab dengan jawaban yang sangat beragam oleh peserta. Padahal al-Qur’an telah memberikan jawaban pasti tentangnya. Kaidah umumnya, jika ada dua atau lebih hal yang berbeda, maka semuanya salah atau salah satu saja yang benar. Dan itu menunjukkan bahwa sejatinya tingkat literasi umat Islam kepada al-Qur’an masih sangatlah rendah.

Islam adalah agama yang sangat canggih. Banyak pernyataan di dalam al-Qur’an maupun hadits yang shahih bersifat konvergen, dalam arti mengarah kepada satu pemahaman yang utuh. Sebaliknya, jika dipahami sepotong-sepotong, maka akan terjerumus ke dalam pemahaman yang salah. Pemahaman yang salah, bukan saja tidak diinginkan, tetapi bisa sangat membayakan umat manusia.

Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi umat manusia. Dan jawaban atas pertanyaan pertama di atas hanya akan bisa didapatkan apabila mengkonvergensikan setidaknya dua ayat, yaitu:

“(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Wahai ‘Isa! Aku mewafatkanmu dan mengangkatmu kepada-Ku, serta menyucikanmu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas orang-orang yang kafir hingga hari Kiamat. Kemudian kepada-Ku engkau kembali, lalu Aku beri keputusan tentang apa yang kamu perselisihkan.” (Ali ‘Imran: 55)

“Allah mewafatkan jiwa (seseorang) pada saat kematiannya dan jiwa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir.” (al-Zumar: 42)

Ayat pertama menginformasikan bahwa Allah mewafatkan Nabi Isa. Istilah mewafatkan, terutama dalam konteks masyarakat Indonesia yang menjadikan kata wafat sebagai kata serapan memang berpotensi menyebankan kekeliruan pemahaman.

Sebab, kata wafat didalam bahasa Indonesia disamakan dengan mati. Padahal al-Qur’an memberikan perspektif tentang sisi perbedaannya. Berdasarkan ayat kedua, mati pasti wafat, tetapi wafat belum tentu mati; tidur adalah keadaan wafat selain keaadaan mati.

Ayat lain yang menguatkan perspektif bahwa Nabi Isa tidak mati adalah: “…dan (Kami hukum juga) karena ucapan mereka, “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, ‘Isa putra Maryam, Rasul Allah.” Padahal, mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa.” (al-Nisa’: 157).

Al-Qur’an menambahkan penguatan dengan bukti bahwa pernah ada kejadian tidur panjang yang terasa hanya sehari atau bahkan setengah hari saja yang dialami oleh ashhaab al-kahfi. “Dan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.” (al-Kahfi: 25).

Dari perspektif yang utuh tentang wafat dan mati, kemudian memahami persamaan sifatnya, kita akan bisa memahami mengapa saat akan tidur umat Islam diajarkan berdo’a: “Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut (Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup, dan dengan nama-Mu aku mati)” Dan saat bangun tidur berdoa: Alhamdullillahilladzi ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur (Segala puji bagi Allah, yang telah membangunkan kami setelah menidurkan kami, dan kepada-Nya lah kami dibangkitkan)” ((HR.Bukhari dan Muslim).

Dari contoh kecil ini, untuk memahami Islam dengan baik, maka diperlukan pemahaman tentang perspektif-perspektif dalam al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad. Banyak sekali perspektifnya nampak terbangun secara tidak hanya konvergen, tetapi selaras dengan konsepsi lain yang konvergen pula, sehingga nampak indah dan mengagumkan.

Jika dalam melihat setiap persoalan yang digunakan adalah sekedar pikiran sendiri, maka hasil yang akan muncul adalah sejumlah kepala yang berpikir. Dan perbedaan-perbedaan itulah yang menimbulkan perdebatan tanpa ujung. Aaplagi jika ego sudah ikut terlibat. Agar tidak terjadi perdebatan yang tidak perlu, maka Allah menetapkan ketetapan-ketetapan (al-kitab).

Nah, untuk mengetahui apa yang benar dan diinginkan oleh Allah itu, maka setiap muslim tidak bisa tidak harus memahami dengan baik al-Qur’an dan sunnah Nabi sebagai dua sumber mutlak ajaran Islam. Berbagai ketetapan dan informasi di dalamnya harus dipahami dengan baik untuk menyudahi perbedaan pandangan, sehingga energi bisa digunakan untuk berpikir dan bekerja dalam rangka membangun peradaban masa depan.

Sebab, di dalam al-Qur’an dan juga sunnah Nabi, selain informasi, konsepsi, dan ketetapan, terdapat pula panduan untuk menggali ilmu pengetahuan dan teknologi. Jika energi habis untuk memperbincangkan dan memperdebatan sesuatu yang sudah tidak perlu diperbincangkan lagi karena sudah sangat jelasnya, apalagi diberdebatkan, maka umat Islam akan semakin ketinggalan.

Agar bisa begitu, maka umat Islam perlu agak serius mempelajari sumber ajaran agama. Di antara langkah paling fundamental yang harus dilakukan dalam sebagai berikut:

Pertama, mempelajari bahasa Arab. Bahasa Arab menjadi wajib karena al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad dalam teks aslinya menggunakan bahasa Arab. Di antara kemu’jizatan al-Qur’an terletak pada aspek bahasanya. Dan merasakannya tidak mungkin kecuali dengan memahami bahasa aslinya.

Demikian pula untuk memahami pesan-pesannya, termasuk hal yang sesungguhnya sangat sederhana di atas. Dengan menguasai bahasa Arab, segala pertanyaan tentang aspek-aspek dalam Islam bisa dicari jawabannya secara langsung dari sumber utamanya. Akses langsung kepada sumber ajaran Islam akan menjadi mudah dilakukan. Ini akan lebih mendekatkan umat Islam kepada al-Qur’an dan sunnah Nabi. Jika ingin meningkatkan lebih tinggi lagi penguasaan bahasa Arab, maka harus menguasai balaghah.

Kedua, mempelajari ilmu-ilmu yang menjadi sarana untuk memahami pesan terdalam al-Qur’an dan sunnah. Penguasaan bahasa saja tentu saja tidak cukup. Jika hanya perlu bahasa saja, tentu saja semua orang Arab akan memahami ajaran Islam. Atau orang yang bekerja bertahun-tahun di Arab akan menguasai ajaran Islam.

Faktanya tidaklah demikian. Yang paling penting dipelajari setelah menguasai bahasa Arab adalah ulum al-Qur’an, ulum al-hadits, manthiq, ushul al-fiqh, dan sirah nabawiyah. Dengan menguasai ilmu-ilmu ini, penarikan pemahaman akan bisa dilakukan dengan benar.

Ketiga, memperkuat dan membiasakan kajian, bukan sekedar pengajian. Sikap ilmiah dengan menganggap bahwa al-Qur’an dan hadits juga mengandung informasi ilmiah yang logis dan positifistik harus dikembangkan. Dan itu akan menjadi bukti bahwa pernyataan-pernyataan al-Qur’an yang bersifat tidak bisa diverifikasi karena masuk dalam kategori yang gaib adalah benar.

Praktek memahami teks secara langsung harus dilakukan, bukan hanya mendengar orang lain menyampaikan pendapat agar bisa membandingkan lalu melakukan pemilahan mana yang memenuhi kriteria kebenaran dan mana yang tidak. Ini tidak akan terjangkau apabila yang dilakukan lebih banyak pengajian yang umumnya membahas tentang persoalan-persoalan khilafiyah yang mestinya sudah selesai tiga belas abad yang lalu.

Kajian yang mendalam dan fokus persoalan yang spesifik akan lebih memungkinkan umat Islam untuk melangkah lebih maju. Sebab, tanpa informasi kitab suci, ilmu pengetahuan harus diraba-raba terlebih dahulu untuk mengidentifikasinya.

Namun, dengan kitab suci yang benar ini, ilmu pengetahuan langsung terdeteksi. Tinggal melakukan tindakan ilmiah lanjutan agar pengetahuan itu benar-benar secara konkret bisa dimanfaatkan untuk pembangunan peradaban.

Dengan melakukan setidaknya tiga hal di atas, upaya pemahaman kepada ajaran ajaran Islam secara kontinue untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam secara terus menerus. Pemahaman baru akan mendorong rasa penasaran untuk melakukan temuan konkret baru. Dan itu tentu saja akan membuat semangat untuk melakukan kerja ilmiah semakin kuat.

Tanpa menguasai ilmu-ilmu alat yang hanya mungkin dilakukan dengan kajian serius, upaya untuk menangkap kekayaan pesan al-Qur’an akan seperti upaya menangkap banyak ikan di samudera yang sangat luas, tapi tanpa menggunakan alat-alat tangkap.

Sebesar apa pun tenaga dikelurkan untuk melakukannya, ikan paling kecil pun tidak akan bisa tertangkap. Yang terjadi justru adalah kelelahan dan kebosanan melanjutkan usaha dan kemudian pulang dengan tangan hampa. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *