Semua Ini Berkat Yumi, Kata Haji Murti

Haji Murti
Haji Murti


banner 800x800

banner 678x960

Daftar Donatur Palestina



Oleh Hamid Basyaib

Hajinews.id – PAK MURTI dan isterinya, Soliah, seperti terlempar ke tempat yang salah. Segala yang mereka lihat di sekitar Makkah selama beberapa hari ini mengherankan belaka, juga terkadang menakutkan, sekaligus menakjubkan.

Bacaan Lainnya
banner 678x960

banner 400x400

Mereka bermalam di hotel bintang 5, yang kemewahannya bahkan tak pernah ia bayangkan, apalagi ia rasakan. Mereka canggung dan gentar menghadapi kecanggihan segala perangkat di kamar hotel.

Kasur dan seprei yang terlalu bagus, di dalam kamar yang terang benderang dan beraroma wangi, ini saja sudah membuat mereka terpana. Mereka sekarang harus berhati-hati. Jangan sampai keran mengeluarkan air yang terlalu panas seperti kemarin, yang membuat tangan mereka serasa melepuh.

Pak Murti hanya ingin minum kopi tubruk, seperti yang tiap pagi ia minum di beranda kecil rumahnya. Ia tak bisa menggunakan coffee maker generasi mutakhir yang tersedia di kamar, lengkap dengan saset-saset kopi-krim-gula yang belum pernah ia dengar mereknya. Turun-naik lift pun problem tersendiri. Ia takut, dan tak tahu apa yang akan terjadi kalau sampai ia salah memencet tombol yang bermacam-macam itu.

Di luar rangkaian ritual haji dan doa-doa khusyuk di pagi dan malam hari yang mereka jalani dengan takzim, hari-hari di Makkah mereka isi dengan saling bertanya dan saling mengungkapkan rasa heran dan takjub.

Tak ada jamaah yang berminat mengajak mereka untuk sekadar berbincang ringan — ini justeru mereka syukuri. Mereka pun tak berminat, tak berani, memulai percakapan dengan orang-orang kaya teman serombongannya di kelompok haji.

Tak mudah menjelaskan kepada orang lain bagaimana mereka, suami-isteri petani miskin dari Ciamis, Jawa Barat, bisa hadir di depan Ka’bah, bersama rombongan haji premium, dengan naik pesawat yang begitu besar di kelas bisnis.

Biarlah orang-orang itu tak perlu tahu bahwa mereka baru kali ini ke luar negeri — bahkan seumur hidup baru kali ini naik pesawat terbang. Pak Murti dan Bu Soliah pasti tak tahu berapa biaya perjalanan ke Makkah ini.

Mereka juga tak tahu bahwa warga kelas-menengah Indonesia pun umumnya tak akan sanggup, atau harus berpikir dua belas kali untuk berhaji dengan fasilitas terbaik seperti yang ia dan isterinya nikmati.

***

Seperti para tetangga di kampung halaman, keinginan Pak Murti pun tak banyak dalam hidup ini. Kemiskinan membuat ia tak sanggup, dan tahu-diri, bahkan untuk sekadar menyimpan cita-cita. Sebagai Muslim yang taat beribadah, hanya dirinya yang tahu bahwa jauh di sudut batinnya, ia ingin sekali menunaikan ibadah haji, entah kapan.

Beberapa tetangganya yang menyimpan harapan yang sama sejak bertahun-tahun lalu berusaha menabung. Pak Murti tidak mungkin menabung. Ia harus menetapkan prioritas. Dan ia memilih memusatkan seluruh dayanya untuk menyekolahkan puterinya, Yumi.

Sebagai petani penggarap, buruh tani yang mengolah sawah milik orang lain, ia bekerja sekeras-kerasnya untuk mencapai tujuan tunggal: membuat Yumi terus bersekolah. Ia bersumpah untuk tidak akan membiarkan anak tercintanya itu hidup sesusah dirinya.

Lalu Yumi diterima di Institut Teknologi Bandung — Pak Murti tak merasa perlu untuk tahu di fakultas atau jurusan apa anaknya diterima belajar. Baginya nama besar ITB sudah merupakan jaminan mutu, dan cukuplah ia percaya bahwa Yumi pasti mendapatkan pendidikan terbaik di sana.

Ia bekerja lebih keras. Pada suatu titik, Yumi merasa tak sanggup lagi. Ia tak mungkin membuat ayahnya bekerja lebih keras lagi. Biaya kuliah, praktikum dan biaya hidup di Bandung dll, terus merayap naik, seperti usia ayahnya. Tapi Pak Murti melarang Yumi berhenti kuliah. “Saya akan melakukan apa saja demi membuat kamu lulus dari ITB,” katanya. “Apa saja! Dan saya masih bisa!”

Dengan susah-payah, Yumi lulus, lalu bekerja di Jakarta. Dari desanya yang jauh di Ciamis, Pak Murti dan isterinya cukup memantau dan bertanya kabar Yumi. Mereka bahagia dengan hanya mendengar bahwa kondisi Yumi baik belaka, dan bahwa pekerjaannya pun lancar saja.

banner 800x800

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *