Dan, Nadiem pun Sadar Pendidikan Indonesia Bukan seperti Apps Gojek

Foto: warta ekonomi
banner 678x960

banner 678x960

Daftar Donatur Palestina



Jakarta, hajinews.id-Setelah empat bulan menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim baru menyadari bahwa mengelola pendidikan di Indonesia tidak sama dengan mengelola sebuah aplikasi atau bahkan dengan perusahaan swasta.

“Saya sudah melakukan riset, bicara dengan pakar, guru, kepala sekolah, hingga mahasiswa. Hal yang saya temukan itu suatu yang sangat berbeda dengan persepsi saya,” ungkap Nadiem saat menjadi pembicara seperti dikutip dari Youtube Kemendikbud, Senin (20/1).

Bacaan Lainnya
banner 678x960

banner 400x400

Namun demikian, jika bicara inovasi seperti Gojek, maka di bidang pendidikan sangat diperlukan.

Menurut Nadiem, pendidikan yang dia pikirkan adalah yang bisa dikelola dengan sistem manajemen perusahaan. Bahkan bisa mendapatkan insentif dan disinsentif.

“Very managerial. Seperti pabrik, call center, agent, bahkan gojek. Tapi ternyata produknya ini bukan seperti apps. Ini salah. Ini produknya manusia/tingkat kompleksitasnya luar biasa,” papar Nadiem.

Bicara pendidikan, sambung Nadiem, luar biasa sistemnya dengan penuh regulasi. Namun, sekolah-sekolah yang baik, sambungnya harus bisa berinovasi.

Nadiem menjelaskan, bahwa untuk melakukan reformasi pendidikan, dibutuhkan waktu yang lama. Itu kenapa, Nadiem menjadikan sistem Merdeka Belajar sebagai solusi untuk reformasi sistem pendidikan di Indonesia.

“Hampir tidak ada kasus-kasus pendidikan dunia yang bisa direform dan kalau pun berhasil pun butuh waktu 10-15 tahun. Tidak akan tercapai dalam waktu 5 tahun saja,” kata Nadiem.

Kendati demikian, Nadiem optimistis pihaknya bisa melakukan lompatan besar lewat sistem pendidikan yang rencananya bakal dilaksanakan pada 2021, yakni melalui Merdeka Belajar.

“Lewat sistem ini, 10 persen sampai 20 persen bisa lompat dan harapannya, dari situ akan bisa mempengaruhi para agent of change. Karena reformasi pendidikan gak hanya bisa dilakukan oleh pemerintah. People society harus berpartisipasi, perusahaan-perusahaan harus berpartisipasi,” tuturnya.
Dalam merancang Merdeka Belajar itu, kata Nadiem, pihaknya sudah melakukan riset selama kurang lebih lima bulan. Dia melakukan wawancara kepada para pakar, guru-guru, kepala sekolah, mahasiswa, dan lain sebagainya.

Dari hasil riset itu, kata Nadiem, pihaknya banyak menemukan perspektif baru, di mana dalam benaknya dahulu, pendidikan bisa diperbaiki dengan melalui insentif, seperti bagaimana pabrik atau start-up bekerja.

Kenyataannya, lanjut Nadiem, cara pemberian insentif dan disinsentif tersebut, menurut dia tidak bisa dilakukan di bidang pendidikan.

“Pendidikan penuh dengan kompleksitas manusia. Tidak bisa dengan approach yang sama. Satu hal yang saya sadari, ternyata banyak sekolah-sekolah yang terbaik, yang justru datang dari sekolah non formal,” kata Nadiem.

“Jadi, Merdeka Belajar adalah call to action untuk masyarakat, untuk guru, sekolah, orangtua, agar bisa meredefinisi bagaimana kultur itu berkembang dengan sangat cepat. Untuk merdekakan pendidikan, semuanya harus terlibat,” jelas Nadiem. (wh/cnbc)

banner 800x800

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *