Minyak Goreng dan Calon Presiden

Minyak Goreng dan Calon Presiden
Mundzar Fahman, Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri Bojonegoro.
banner 678x960

banner 678x960

Daftar Donatur Palestina



Oleh: Mundzar Fahman, Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri Bojonegoro.

Hajinews.id – Hari-hari ini minyak goreng (migor) langka di pasaran. Emak-emak mengeluh. Banyak pedagang kecil dan bakul jajan gorengan menjerit. Pedagang eceran sembako tidak punya stok untuk dijual.

Bacaan Lainnya
banner 678x960

banner 400x400

Pada saat yang sama, nyaris tidak ada pejabat publik yang bicara menawarkan solusi. Bagaimana mengatasi problem kelangkaan migor saat ini.  Apalagi, melakukan aksi nyata. Celakanya, media sosial ataupun media massa cetak justru diramaikan pencitraan orang-orang yang kebelet ingin jadi presiden. Orang-orang gede juga lebih sibuk berdebat tentang pemindahan ibu kota negara.

Sebelum langka seperti saat ini, harga beberapa merek migor naik gila-gilaan. Dalam satu hari bisa naik dua kali atau lebih. Tetapi, stok di pasaran normal. Aman. Emak-emak hanya mengeluhkan tentang kenaikan harganya yang sebegitu cepat. Harga migor yang sebelumnya di kisaran Rp 13.000 per liter, dalam beberapa hari, melonjak hingga pada level Rp 18.000 per liter. Harga melejit, tetapi stok barang aman.

Setelah kondisi itu berlangsung beberapa waktu, muncul kebijakan pemberian subsidi harga migor merk tertentu. Harganya hanya Rp 14.000 per liter. Pedagang pengecer hanya boleh menjual dengan harga kisaran Rp 15.000 per liter. Padahal, saat itu banyak pedagang eceran sudah terlanjur kulakan migor nonsubsidi dengan harga di kisaran Rp 18.000 an per liter.

Kebijakan pemberian subsidi tersebut justru menjadi awal petaka lebih besar bagi masyarakat. Karena, pembelian sangat dibatasi. Minyak bersubsidi didrop di banyak toko retail modern dalam jumlah sangat terbatas. Masyarakat konsumen berebut antre. Banyak yang tidak kebagian. ‘’Untuk apa harga murah, tetapi tidak ada barang yang dapat dibeli?’’ kata emak-emak.

Saat migor langka seperti saat ini banyak kelompok masyarakat dirugikan. Misal, produsen kerupuk atau tahu kesulitan mendapatkan migor. Toko-toko pengecer di desa-desa juga tidak bisa berjualan migor. Karena mereka tidak bisa kulakan. Barang tidak ada. Akibatnya, masyarakat sebagai konsumen (pengguna) migor juga repot. ‘’Harga mahal sebenarnya tidak masalah asal barang ada dan bisa beli. Daripada harga murah tapi barang tidak ada, dan tidak bisa beli. Untuk apa?’’ kata emak-emak.

Saat ini, migor langka tidak hanya yang kemasan pabrikan. Migor curah pun langka. Pengusaha kecil dan menengah yang menggunakan migor curah dalam proses produksinya, kini kelimpungan. Produksi mereka terhenti. Radar Bojonegoro memberitakan, gegara migor langka, beberapa produsen tahu di Bojonegoro tidak berproduksi. Di Blora, satu desa hanya dijatah dua dos migor bersubsidi harga Rp 14.000 per liter. Satu dos berisi 12 liter. (Radar Bojonegoro, 11 Februari 2022).

Keresahan masyarakat seperti itu seharusnya segera ditangkap dan diperhatikan oleh para pejabat. Pusat ataupun daerah. Eksekutif ataupun legislatif. Eksekutif dan/atau legislatif di level daerah harusnya menyuarakan kepada level yang lebih tinggi. Kemudian, di level tertinggi: presiden, menteri terkait, dan DPR-RI mendesakkan berbagai solusi penyelesaiannya. Mereka tidak boleh abai terhadap beban masyarakat.

Momen seperti ini seharusnya juga perlu ditangkap oleh mereka yang punya syahwat tinggi untuk maju sebagai calon presiden. Situasi seperti ini perlu dijadikan latihan menyelesaikan masalah warga. Meski baru sebatas wacana. Iso opo ora mereka mengatasi problema bangsa. Para bakal calon presiden perlulah unjuk kekuatan dan unjuk keberanian bersuara memihak kepada kepentingan rakyat banyak.

Mereka yang pingin maju sebagai calon presiden  jangan hanya sibuk pencitraan. Sibuk memperkenalkan diri, meningkatkan tingkat elektabilitas dan popularitas. Jangan hanya rajin masang baliho, baner di berbagai sudut kota, atau pasang iklan di media massa, dan sebagainya. Penampakan lahir fisik itu penting. Tetapi, lebih penting lagi adalah bagaimana kapasitas/kualitas diri bakal calon. Sekelas bakal calon presiden harus punya kemampuan dan nyali di atas rata-rata.

Saya sering tersenyum sendiri setiap mengikuti berita-berita tentang apa yang dilakukan oleh mereka yang akan maju sebagai capres. Mereka sibuk melakukan pencitraan. Mereka pingin mencitrakan sebagai sosok yang peduli kepada wong cilik. Ada yang direwangi sampai terperosok ke dalam got, dan sebagainya.

Buzzer-buzzer mereka juga siap melakukan berbagai manuver untuk mendongkrak citra bos mereka. Pertanyaan dalam hati saya, betulkah mereka nanti mampu menjadi presiden di negeri ini? Kalau tokh mereka punya kemampuan, apakah mereka berani melakukan berbagai gebrakan untuk perbaikan negeri ini? Jangan-jangan gak punya nyali blass…

Harus diakui bahwa dalam praktik pemilu selama ini di negeri ini, kualitas calon bukanlah segala-galanya. Baik itu dalam pilkada ataupun pilpres. Baik itu dalam pemilu legislatif daerah ataupun pusat. Banyak pemilih kurang memperhatikan kualitas dan integritas diri calon. Maklum, banyak pemilih tidak banyak tahu tentang kepribadian satu persatu calon. Mereka akhirnya memilih jalan pintas hanya memperhatikan ada atau tidak adanya duit ijo, biru, atau abang. Mereka milih sing akeh duite. Ngeri deh…

Tetapi, meski realitas di lapangan banyak terjadi seperti itu, tidak berarti kandidat capres boleh orang sembarangan. Kualitas diri tetap harus diutamakan. Jika tidak, pemimpin yang terpilih nanti bisa-bisa malah menjadi beban bagi rakyat. Ojo mung rumongso iso. Tapi kudu iso rumongso.

Rakyat saat ini butuh perhatian dari pemimpin. Tunjukkanlah kepedulianmu pada rakyat yang dulu kau kasih banyak janji. Wahai bakal calon pemimpin, bersuaralah untuk bakal rakyatmu!!!

 

banner 800x800

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *