IGNAS KLEDEN: Postcript Sebuah Kesungguhan Intelektual

Ignas Kleden
Ignas Kleden
banner 678x960

Daftar Donatur Palestina



banner 678x960

banner 400x400

Oleh: Hamid Basyaib

Hajinews.co.id – SANGAT sedikit intelektual Indonesia seperti Ignas Kleden. Ia tak pernah mau berkompromi dalam soal kualitas ide dan kesungguhan dalam menghadapi masalah. Mungkin ini sebabnya ia tak pernah tampil di acara talk show televisi — sebuah medium komunikasi yang tekun memerosotkan mutu percakapan intelektual, selain mengumbar kedangkalan kultural tanpa putus melalui acara-acara hiburan yang keburukannya sulit dipercaya.

Bacaan Lainnya


Ia meminati percakapan intelektual sejak masih belia, sejak ia, dari kampungnya di Waibalun, Nusa Tenggara Timur, memandangi orang-orang pintar Jakarta menyajikan ide-ide mereka atau berpolemik di media massa. Ia menikmati semua itu dari perpustakaan yang baik di seminari Larantuka, yang selalu menerima kiriman edisi terbaru majalah apapun. Ia menawarkan diri untuk bekerja di sana, supaya bisa menikmati bahan bacaan yang melimpah.

Ia menerjemahkan teks-teks berbahasa Inggris (atau Jerman) untuk Nusa Indah, sebuah penerbit yang komited menerbitkan buku-buku bermutu, menerapkan standar intelektual para pastur pembinanya.

“Saya membicarakan mereka (para intelektual Jakarta) seolah-olah saya mengenal mereka secara pribadi,” katanya, tersenyum geli, mengenang sikap “sok tahu”nya. Dan ia pun berani menyodorkan ide-idenya sendiri di forum media ibukota, bersanding dengan nama-nama besar seperti Asrul Sani atau Wiratmo Sukito. Waktu itu ia baru awal 20an, dan menulis kolom-kolom yang bagus di mingguan Tempo atau bulanan Budaya Jaya.

Ia tampak berupaya menawarkan pendekatan akademis terhadap isu-isu sastra, bahasa dan budaya. Ia, misalnya, mengutip Sigmund Freud untuk kolomnya tentang bahasa.

Perujukan kepada para sarjana ilmu sosial ini, untuk isu-isu budaya, jarang dikerjakan oleh para penulis yang menekuni bidang itu. Mereka enggan membaca buku, dan lebih mengandalkan “pengolahan batin yang otentik” — agar tak dikotori oleh ide-ide intelektual para sarjana.

Tawaran akademis semacan ini terus diupayakannya sampai puluhan tahun kemudian. Dalam kritik sastra, misalnya, ia akhirnya terang-terangan mengungkap motifnya ketika ia mengritik tulisan penyair Afrizal Malna untuk sebuah kumpulan cerita pendek Kompas (karena tanpa keterusterangan itu rupanya ia merasa maksud tawaran yang sudah sering diajukannya tak dimengerti).

Ia, katanya, ingin menyarankan supaya kritik sastra kita punya referensi teoretis, misalnya pada Paul Ricour, yang sudah banyak mengulas soal ini dengan baik. Mengapa teori orang-orang seperti itu tidak dimanfaatkan?

Tanpa rujukan teoretis, kritik sastra kita hanya akan berputar-putar dengan mengandalkan “kreatifitas” dadakan sang kritikus, sambil mengumbar aneka peristilahan mentereng atau serampangan yang tak tentu maknanya.

Itulah yang dia lihat pada pengantar berjudul “Upaya Membuat Telinga” tersebut — tentu ini ia maksudkan sebagai sekadar contoh terdekat. Dengan kekocakan yang cerdas, ia mengibaratkan tulisan itu dengan pemain yang sibuk membawa bola, asyik menggoreng bola dengan berputar-putar di dekat gawang lawan, tapi tak pernah menendang untuk mencetak gol. Pembaca dibiarkan dalam ketidakmengertian atas maksud si kritikus.

banner 800x800

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *