Dunia Makin Menghawatirkan Saat Prabowo Jadi Presiden, Ada Ancaman dari AS!



banner 800x800

banner 678x960

Daftar Donatur Palestina



Hajinews.co.id — Keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan Prabowo Subianto sebagai Presiden terpilih Indonesia untuk periode 2024-2029 menggantikan Joko Widodo (Jokowi) di tengah kondisi global yang bergejolak.

Memasuki era pemerintahan baru Prabowo, proyeksi ekonomi global masih dipenuhi dengan ketidakpastian, terutama bagi negara-negara berkembang.

Bacaan Lainnya
banner 678x960

banner 400x400

Menurut proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF), ekonomi dunia diproyeksikan akan tumbuh sebesar 3,2% pada tahun 2024 dan 2025, dengan kecepatan yang relatif stabil seperti tahun sebelumnya.

Adapun, proyeksi ini naik dibandingkan perkiraan sebelumnya yang dipatok 3,1% pada Januari lalu. Inflasi yang melambat setelah mencapai puncaknya pada tahun lalu memberikan dampak pada pertumbuhan tahun ini.

Kendati secara perekonomian global masih relatif stagnan, namun beberapa hal ini patut menjadi perhatian karena dapat berdampak bagi perekonomian Indonesia.

 

1. Panasnya Politik AS
Saat Prabowo dilantik menjadi presiden pada Oktober, kondisi politik di Amerika Serikat (AS) diperkirakan sedang panas-panasnya. Amerika Serikat (AS) akan menggelar pemilu legislatif dan presiden pada 5 November atau berselang sekitar 15 hari dari pelantikan Prabowo.

Panasnya perpolitikan AS akan berdampak banyak kepada stabilitas pasar keuangan global. Ada dua kandidat terkuat presiden AS yang saat ini menghiasi pemberitaan yakni petahana Joe Biden hingga mantan Presiden Donald Trump.

Jika proses pemilu tidak mulus atau kandidat presiden yang terpilih tidak sesuai keinginan pasar maka pasar keuangan bisa bergejolak seperti halnya pada 2016 saat Trump terpilih.

Sebagai negara super power, hasil pemilu AS ini tentu saja akan berdampak kepada peta geopolitik global, termasuk dengan China.

Berlangsungnya pemilu AS juga diperkirakan akan berimplikasi terhadap inflasi Paman Sam. Inflasi AS dikhawatirkan sulit turun hingga penyelenggaraan pemilu. Kondisi ini akan menahan bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga sebelum pemilu.

Kondisi ini tentu saja berimplikasi terhadap minat investor asing di Emerging Markets, seperti Indonesia. Jika kondisi politik AS panas dan inflasi mereka tak juga turun maka bukan tidak mungkin investor asing akan memilih menepi dulu dari Indonesia.
Jika situasi ini menjadi kenyataan maka rupiah bisa melemah. Padahal, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sudah dalam tren penurunan belakangan ini.

 

2. Proyeksi Perekonomian China dan India Menurun

Di tengah proyeksi perekonomian negara maju mengalami kenaikan, namun berbeda halnya dengan negara berkembang yang cenderung relatif menurun. Kondisi ini diperkirakan masih akan berlanjut hingga akhir tahun atau ketika Prabowo dilantik pada 20 Oktober mendatang hingga di awal pemerintahannya.

Negara-negara emerging market dan negara-negara berkembang dari 4,3% pada 2023 diperkirakan menjadi 4,2% pada tahun 2024 dan 2025.

Salah satu pemberat emerging market yakni China dan India yang diproyeksikan tumbuh lebih rendah dibandingkan 2023 yakni masing-masing 4,6% dan 6,8% pada 2024.

 

IMF dalam laporannya World Economic Outlook 2024: Steady but Slow: Resilience amid Divergence yang terbit Selasa (16/4/2024) ekonomi global tumbuh 4,5% pada tahun ini dan melambat ke 4,3% pada 2025.
Perlambatan salah satunya disebabkan oleh melandainya ekonomi China dari 4,6% pada 2023 menjadi 4,1% pada 2025.

Ekonomi Tiongkok akan terus melandai hingga hanya 3,3% pada 2029 mendatang.

Perlambatan yang terjadi di China dan India akan punya pengaruh yang cukup besar bagi Indonesia. Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh stagnan di 5% pada 2024 dan naik tipis pada 2025 menjadi 5,1%. Ekonomi RI diramal IMF akan stagnan di kisaran 5% hingga 2029 atau saat periode pertama Prabowo berakhir.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor non-migas Indonesia ke India dan China mencapai US$ 18,45 miliar atau setara dengan 31,64% dari total ekspor non-migas.

Ketika perekonomian China dan India melambat, maka kebutuhan impor barang dari Indonesia akan semakin sedikit.

 

3. Ketegangan Politik dan Perang Antar Negara

Belakangan ini terjadi kekisruhan antara Iran dan Israel di daerah Timur Tengah. Sebelumnya, dilansir dari ABC News pada 19 April 2024, misil Israel telah menghajar satu lokasi di Iran. “Ada beberapa laporan yang belum dikonfirmasi mengenai ledakan di Timur Tengah,” kata kepala penelitian komoditas ING, Warren Patterson.

Pasca serangan terakhir Israel, Iran mengabaikan serangkaian laporan ledakan di dekat kota Isfahan itu.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai ketegangan yang sedang berlangsung antara Israel dan Iran berpotensi akan berdampak signifikan terhadap ekonomi negara-negara berkembang, seperti Indonesia.

Terbaru, Presiden Iran Ebrahim Raisi mengancam Israel akan “memusnahkan” Negeri Zionis itu jika mencoba menyerang Teheran lagi. Hal ini dilontarkannya dalam kunjungan ke Pakistan.

“Jika rezim Zionis sekali lagi melakukan kesalahan dan menyerang tanah suci Iran, situasinya akan berbeda, dan tidak jelas apakah rezim ini akan tetap bertahan,” tulis kantor berita negara Iran, IRNA, mengutip ucapan Raisi, yang juga dilaporkan Russia Today (RT) Rabu (24/4/2024).

Ketegangan tidak hanya terjadi di Timur Tengah, namun perang saudara pecah di negara tetangga RI. Pertempuran dilaporkan berkobar di perbatasan timur Myanmar dengan Thailand sejak Sabtu lalu (20/4/2024).

Serangan dilaporkan dilakukan kelompok anti junta militer (pasukan perlawanan) yang berperang untuk mengusir pasukan junta. Sejumlah ledakan dan tembakan terus terdengar di wilayah itu.

Situasi ketegangan hingga melibatkan banyak negara untuk menyelesaikan masalah, akan memberikan dampak negatif bagi Indonesia.

Ketegangan geopolitik diperkirakan masih akan terjadi hingga akhir tahun atau saat Prabowo menjabat sebagai Presiden RI Oktober mendatang.

Secara year to date/ytd hingga Jumat (3/5/2024), rupiah terdepresiasi sebesar 4,4% dan sempat menyentuh titik terendahnya di angka Rp16.250/US$.

Penurunan rupiah ini tak lepas dari kebutuhan dolar AS yang meningkat dari dalam negeri untuk pembayaran dividen serta kuatnya ekonomi AS yang pada akhirnya membuat indeks dolar AS (DXY) mengalami kenaikan yang signifikan bahkan menembus angka 106.

Ekspektasi pemangkasan suku bunga bank sentral AS (The Fed) pun semakin memudar di tengah data-data ekonomi AS tidak mendukung untuk penurunan suku bunga tersebut.

Begitu pula dengan Bank Indonesia (BI) yang pada awalnya akan memangkas suku bunganya di semester kedua 2024, namun justru menaikkan suku bunga pada Rabu (24/4/2024) sebesar 25 basis poin (bps) ke level 6,25%.

Dampak lemahnya rupiah ini dapat berdampak kepada semakin beratnya beban pemerintah dalam membayar utang berbasis dolar AS serta biaya impor dalam mata uang asing akan semakin membesar.

sumber

 

 

banner 800x800

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *