Kultum 371: Akibat Ulah Tangan Manusia (3)

Akibat Ulah Tangan Manusia
Dr. H. Rubadi Budi Supatma, Wakil Ketua Departemen Kelembagaan dan Hubungan Luar Negeri Pengurus Pusat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia, PP IPHI.
banner 678x960

banner 678x960

Daftar Donatur Palestina



banner 678x960

banner 400x400

Oleh: Dr. H. Rubadi Budi Supatma, Wakil Ketua Departemen Kelembagaan dan Hubungan Luar Negeri Pengurus Pusat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia, PP IPHI.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Bacaan Lainnya


اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ

Pembaca yang dirahmati Allah,

Hajinews.co.id – Seiring pertambahan penduduk bumi yang mencapai 8 milyar pada 15 Nopember 2022 ini, kita semua harus berfikir tentang banyak hal yang akan segera kita dihadapi. Bayangkan. Beberapa negara kepulauan, terutama ngara-negara di Mikronesia yang terbentang di Timur Jauh sampai mendekati benua Amerika, mereka harus bersiap menerima hempasan ombak yang siap menghempas. Wilayah kepulauan kecil-kecil itu membentang terdiri atas Kepualuan Solomon, Vanuatau, Fiji, Tuvalu, Willis dan Futuna, Samoa Amerika, Kiribati, dan Polinesia Perancis. Semua wilayah itu sangat rentan terhadap ombak besar karena terletak di samudra lepas-luas dan mereka terdiri atas hamparan pulau-pulau kecil.

Mungkin terdengar aneh bahwa empat tahun terakhir, satuan tugas khusus pemerintah di Fiji, telah berusaha mencari cara untuk memindahkan negara itu. Rencana yang telah dibuatnya berjalan hingga 130 halaman teks padat, diselingi dengan grafik laba-laba yang rumit dan garis waktu yang terperinci. Dokumen tersebut memiliki judul yang tidak menarik yakni “Prosedur Operasi Standar untuk Relokasi yang Direncanakan”. Tetapi ini adalah rencana paling menyeluruh yang pernah dibuat untuk mengatasi salah satu konsekuensi paling mendesak dari krisis iklim, yakni bagaimana merelokasi masyarakat yang rumahnya akan segera, atau sudah selevel atau bahkan di bawah level air.

Sungguh, ini adalah tugas yang sangat besar. Fiji terletak di Pasifik selatan, sekitar 2.800 kilometer sebelah timur Australia, memiliki lebih dari 300 pulau dan populasi yang hanya di bawah 1 juta. Seperti sebagian besar wilayah Pasifik, negara ini sangat rentan terhadap dampak krisis iklim. Suhu permukaan dan panas laut di beberapa bagian Pasifik barat daya meningkat tiga kali lipat lebih cepat daripada rata-rata global.

Siklon yang parah secara rutin menghantam wilayah tersebut. Pada tahun 2016, Topna Winston menghantam FIJI, menewaskan 44 orang dan menyebabkan kerusakan senilai 1,4 miliar Dolar America, atau sepertiga dari PDB Fiji. Sejak itu, Fiji telah dilanda topan enam kali. Fiji merupakan lima dari 15 negara paling berisiko dari musibah terkait cuaca berada di wilayah samudera Pasifik.

Apa yang coba dilakukan Fiji belum pernah terjadi sebelumnya. Selama bertahun-tahun, politisi dan ilmuwan telah berbicara tentang prospek migrasi iklim. Di Fiji, dan di sebagian besar Pasifik, migrasi ini telah dimulai. Di sini, masalahnya bukan saja apakah masyarakat akan dipaksa untuk pindah, tetapi bagaimana tepatnya melakukannya.

Hingga saat ini, 42 desa di Fiji telah dialokasikan untuk potensi relokasi dalam lima hingga 10 tahun ke depan sebagai dampak krisis iklim. Penduduk dari enam desa sudah dipindahkan, entah ke mana. Penduduk yang mendftar semakin banyak. Memindahkan desa melintasi daerah pegunungan Fiji yang subur adalah tugas yang sangat berat dan pelik. Dan kerja berat ini bukan sekedar mencabut 30 atau 40 rumah di sebuah desa dan memindahkannya lebih jauh ke atas. Bayangkan jika kita harus memindahkan rumah, sekolah, pusat kesehatan, jalan, listrik, air, infrastruktur, gereja, dan lain-lain. Sebagian penduduk bahkan mengatakan bahwa mereka perlu memindahkan kuburan orang.

banner 800x800

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *