Kultum 372: 8 Milyar Manusia dan 4 Konsekuensinya (4)

8 Milyar Manusia dan 4 Konsekuensinya
Dr. H. Rubadi Budi Supatma, Wakil Ketua Departemen Kelembagaan dan Hubungan Luar Negeri Pengurus Pusat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia, PP IPHI.
banner 678x960

banner 678x960

Daftar Donatur Palestina



banner 678x960

banner 400x400

Oleh: Dr. H. Rubadi Budi Supatma, Wakil Ketua Departemen Kelembagaan dan Hubungan Luar Negeri Pengurus Pusat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia, PP IPHI.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Bacaan Lainnya


اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ

Pembaca yang dirahmati Allah,

Hajinews.co.id – Seorang pimpinan Sekolah Kesehatan Masyarakat, Universitas Pittsburgh, negara bagian Pennsylvania, Amerika Serikat bernama Maureen Lichtvelt mengatakan bahwa perkembangan penduduk bumi yang telah mencapai 8 milyar, membawa 4 konsekuensi. Keempat konsekuensi itu tentulah harus dihadapi dengan berbagai persiapan. Ada beberapa pertanyaan yang sangat mengkhawatirkan dirinya sebagai ilmuwan kesehatan populasi dan lingkungan.

Pertama, akankah kita memiliki cukup makanan untuk pertumbuhan populasi global?; Kedua, bagaimana kita akan merawat lebih banyak orang di pandemi berikutnya?; Ketiga, apa yang akan dilakukan panas terhadap jutaan orang dengan hipertensi?; dan Keempat, akankah semua negara mengobarkan ‘perang air’ karena meningkatnya kekeringan? Bagi Maureen, semua risiko ini memiliki tiga kesamaan dalam hal kesehatan.

Maureen mengatakan bahwa selama 40 tahun karirnya, pernah bekerja di hutan hujan Amazon dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, lalu di akademisi, dia telah hadapi banyak masalah kesehatan masyarakat, tapi tidak ada sangat serius sebagaimana “perubahan iklim”. Menurutnya, terkait iklim ada empat masalah kesehatan masyarakat terbesar dalam hal populasi yang terus bertambah.

Pertama, penyakit menular, di mana lebih dari separuh dari penyakit menular pada manusia dapat diperparah oleh perubahan iklim. Banjir dapat mempengaruhi kualitas air dan habitat di mana bakteri dan vektor berbahaya seperti nyamuk dapat berkembang biak dan menularkan penyakit. Demam berdarah menjangkiti sekitar 100 juta orang per tahun, menjadi lebih umum di lingkungan yang panas dan basah. Musim malaria bertambah 31% di daerah Amerika Latin dan hampir 14% di Afrika karena suhu.

Dari semua itu, sebagai umat Islam kita memang harus khawatir dalam hal ini. Tapi, rasa khawatir itu tidak boleh membuat kita justru lebih sakit. Sebaliknya, kita harus berjuang untuk membuat situasi kembali normal sambil mengusahakan obatnya. Allah Subhanahau wata’ala telah berfirman,

وَ إِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ

Artinya:

Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku (QS. Asy-Syu’ara, ayat 80).

Jadi, sebagai Muslim kita harus yakin bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya. Hal lain yang seharusnya juga diketahui oleh seorang muslim adalah tidaklah Allah menciptakan suatu penyakit kecuali Dia juga menciptakan penawarnya. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwasallam,

مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً

Artinya;

Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan penawarnya (HR. Bukhari).

Bahkan Imam Muslim ‘merekam’ sebuah hadits dari Jabir bin ‘Abdullah Radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasannya beliau bersabda,

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءُ، فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ

الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ

Artinya:

Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat itu tepat untuk suatu penyakit, penyakit itu akan sembuh dengan seizin Allah ‘Azza wa Jalla (HR. Imam Muslim).

banner 800x800

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *