Hikmah Pagi: Bolehkah Tidur Saat I’tikaf? Berikut Penjelasannya

Bolehkah Tidur Saat I'tikaf?
Bolehkah Tidur Saat I'tikaf?
banner 678x960

banner 678x960

Daftar Donatur Palestina



banner 678x960

banner 400x400

Hajinews.co.idDi bulan Ramadan, umat Islam berlomba-lomba beramal shaleh. Salah satunya adalah I’tikaf di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.

Banyak yang mempersiapkan I’tikaf bahkan membawa pakaian dan kebutuhan sehari-hari. Apakah seorang Muslim tidur saat I’tikaf ?

Bacaan Lainnya


Merujuk buku Itikaf Penting Dan Perlu oleh Dr. Ahmad Abdurrazaq Al-Kubaisi dijelaskan bahwa I’tikaf berasal dari kata ‘akafa yang maknanya menetap, mengurung diri atau terhalangi.

Menurut Imam Nawawi, I’tikaf seseorang di masjid adalah dengan niat tertentu. Definisi ini juga diikuti dan disepakati oleh Asi Sirbini dan Al-Kauhaji dalam kitab Mughni al-Muhtaji dan Zodul Muhtaji.

Ada banyak alasan I’tikaf di bulan Ramadan. Amalan ini dianjurkan karena merupakan bagian dari Sunnah.

Dalam sebuah riwayat, Aisyah RA mengatakan, “Bahwa Nabi SAW melakukan I’tikaf pada hari kesepuluh terakhir dari bulan Ramadan, (beliau melakukannya) sejak datang di Madinah sampai beliau wafat, kemudian istri-istri beliau melakukan I’tikaf setelah beliau wafat.” (HR. Muslim)

Melalui hadits riwayat Ibnu Umar, ia berkata, “Rasulullah SAW berI’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Anjuran tersebut didasarkan pada hadits riwayat Abu Hurairah yang menyatakan bahwa:

“Rasulullah SAW berI’tikaf pada setiap Ramadan selama sepuluh hari, dan ketika tahun kewafatannya beliau berI’tikaf selama dua puluh hari.” (HR Bukhari dan Abu Daud).

Dikutip dari buku I’tikaf, Qiyamul Lail, Shalat ‘Ied dan Zakat al-Fithr di Tengah Wabah yang disusun oleh Isnan Ansory Lc MA, mazhab Hanafi, Syafi’i serta Hambali berpandangan durasi minimal I’tikaf ialah sa’ah pada malam ataupun siang hari.

Maksud dari sa’ah yaitu satu jam jika dimaknai pada era sekarang, namun dahulu sa’ah diartikan sebagai sesaat, sejenak, atau sebentar.

Adapun, mazhab Maliki berpendapat bahwa durasi minimal I’tikaf adalah sehari semalam tanpa putus. Rangkaiannya dimulai sejak masuk waktu malam ketika terbenamnya matahari, lanjut di pagi, siang, sore, dan berakhir ketika matahari kembali tenggelam.

Bolehkah Tidur saat I’tikaf?

Ketika mengerjakan I’tikaf, seorang muslim hendaknya memperbaiki kualitas ibadah wajib serta memperbanyak ibadah sunah. Berbagai amalan bisa dikerjakan saat I’tikaf seperti mendirikan salat sunnah malam, memperbanyak tadarus Al-Qur’an dan memperpanjang dzikir.

Meskipun demikian, seorang muslim yang berI’tikaf tetap diperbolehkan untuk tidur.

Dijelaskan dalam buku I’tikaf, Qiyamul Lail, Shalat ‘Ied dan Zakat al-Fithr di Tengah Wabah karya Isnan Ansory, masjid boleh digunakan untuk tidur sehingga seseorang yang sedang berI’tikaf di masjid juga diperbolehkan untuk tidur dan beristirahat.

Tidurnya seorang yang sedang berI’tikaf tidak menjadi penyebab batal I’tikaf. Meskipun demikian, hendaknya tetap memperhatikan adab tidur di masjid, artinya tidak tidur terus menerus selama iktikaf.

Tidur dan beristirahat merupakan kebutuhan alami setiap makhluk hidup, termasuk manusia. Oleh karenanya, dalam rangkaian ibadah I’tikaf, seorang muslim diperbolehkan tidur sejenak.

Wallahu a’lam.

banner 800x800

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *