Ustadz Adi Hidayat: Bukan Jam 8 Pagi, Ternyata Salat Dhuha Jam Segini yang Berpotensi Berlimpahan Rezeki

waktu Salat Dhuha
Ustadz Adi Hidayat
banner 678x960

banner 678x960

Daftar Donatur Palestina



banner 678x960

banner 400x400

Hajinews.co.idUstadz Adi Hidayat dalam ceramahnya menjelaskan, ada tiga waktu dhuha.

Salah satu waktu dhuha, kata Ustadz Adi Hidayat, memiliki kemungkinan rezeki berlimpah.

Bacaan Lainnya


Namun ternyata jam 8 pagi bukanlah waktu dhuha yang memungkinkan rezeki anda akan berjalan lancar.

Berikut penjelasan tiga waktu dhuha yang dirangkum dari ceramah yang diunggah di kanal YouTube resmi Ustadz Adi Hidayat.

Awal Waktu Dhuha yang Pertama Adalah Syuruq: Senilai Pahala Haji dan Umrah

Ustadz Adi Hidayat menyarankan agar setelah salat subuh, setiap Muslim sebaiknya tidak beranjak.

Hal karena setelah subuh ada waktu yang bernama syuruq.

Waktu pertama dhuha itulah saat syuruq.

Adapun keutamaan dari salat dhuha kata Ustadz Adi Hidayat di waktu syuruq adalah senilai pahala haji dan umrah.

“Ini senilai pahala haji dan umrah,” jelasnya.

Kata Ustadz Adi Hidayat, waktu dhuha itu dimulai sejak syuruq.

Salat dhuha itu waktunya dimulai sejak waktu syuruq, saat perjalanan matahari yang bergerak dari terbit sampai berada di posisi tempat terbitnya sampai bergeser lagi sekira bayangan itu 1 tombak,” tandasnya.

Waktunya bernama syuruq, pergerakan mataharinya namanya isyraq, matahari berada di porosnya disebut masyriq.

“Saat bayangan matahari 1 tombak inilah waktu syuruq atau awal dhuha,” jelas Ustadz Adi Hidayat.

“Awal dhuha, tarik 1 jam setelah salat subuh, kurang lebih 1 jam paling cepat, awal syuruq 6.30 boleh nambah 15 menit tak ada masalah,” lanjutnya.

Adapun kemuliaan yang ada di awal dhuha ini antara lain dikatakan oleh Ustadz Adi Hidayat tercantum dalam hadits At-Tirmidzi.

“Siapa menunaikan salat subuh dengan jamaah atau di hadits lain dikatakan di masjid, lalu dia tidak langsung beranjak, dia berzikir dulu hingga sampai tiba awal dhuha, kemudian dia salat di awal dhuha itu, maka ia dapat pahala senilai haji dan umrah,” jelasnya.

Namun Ustadz Adi Hidayat mengingatkan bahwa hal tersebut jangan dipahami dengan kalimat bahwa jika salat syuruq artinya sudah haji dan umrah.

“Ini senilai pahala haji dan umrah tapi belum tentu dapat kemuliaan salat di masjidil haram masjid nabawi,” kata Ustadz Adi Hidayat.

Namun pahala mengerjakan salat syuruq itu pahalanya baik yakni seperti mengerjakan haji dan umrah.

“Berpeluang dapat surga dan rahmat Allah SWT, berpeluang merubah perilaku jadi lebih baik,” kata Ustadz Adi Hidayat.

Hal ini karena makna dari kata Al Birru adalah perubahan dari sifat kurang baik jadi baik.

“Ketika melekat pada pelakunya haji mabrur, nah orang yang belum bisa haji dan umrah konsisten salat syuruq awal dhuha, karena dapat bisa merubah jadi lebih baik,” kata Ustadz Adi Hidayat.

banner 800x800

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar