Malam Lailatul Qadar Diawali Dengan Keresahan Rasulullah SAW, Gus Baha: Bagaimana Bisa?

Malam Lailatul Qadar Diawali Dengan Keresahan Rasulullah
Gus Baha
banner 678x960

banner 678x960

Daftar Donatur Palestina



banner 678x960

banner 400x400

Hajinews.co.idUlama kharismatik Rembang KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha bercerita tentang awal mula malam Lailatul Qadar.

Menurut Santri Mbah Moen, Lailatul Qadar merupakan anugerah istimewa dari Allah SWT kepada umat Rasulullah SAW. Menurut riwayat, Lailatul Qadar jatuh pada malam Ramadan.

Bacaan Lainnya


Gus Baha juga menjelaskan, malam Lailatul Qadar bermula dari keresahan Rasulullah terhadap nasib umatnya yang berbeda dengan umat nabi-nabi sebelumnya yang berumur pendek.

Tentu saja, karena umur mereka yang pendek, maka tingkat ibadah umat Nabi SAW tidak bisa disamakan dengan para nabi-nabi terdahulu. 

Sinyal keresahan Rasulullah akan nasib umatnya ini, maka Allah SWT menurunkan malam Lailatul Qadar yang merupakan malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Hadiah dari Allah untuk Umat Rasulullah SAW

Pendapat Gus Baha didasarkan pada salah satu kitab yang ia miliki berkaitan dengan malam Lailatul Qadar. Secara spesifik, kitab ini membahas asal muasal turunnya malam lailatul qadar.

Rupanya penyebab turunnya Lailatul Qadar bermula dari keresahan Rasulullah SAW akan nasib umatnya yang memiliki usia yang sangat pendek dibandingkan dengan umat-umat para Nabi terdahulu yang usianya mencapai ribuan tahun.

“Saya punya kitab dan itu kitab yang kredibel. Kitabnya orang terdahulu, kitab hadis,” terang Gus Baha dikutip dari tayangan YouTube Laduni ID, Rabu (27/03/2024).

“Itu ceritanya Nabi Muhammad SAW sedang cerita Nabi Nuh AS yang usianya 1.000 tahun kurang 50 tahun, berarti 950 tahun, Nabi Ibrahim sekian ratus tahun. Lalu ada keresahan, keresahan itu karena luh, umatku kalau usianya pendek-pendke trus bagaimana?” sambungnya.

Atas keresahan kekasih-Nya itu, maka Allah SWT menurunkan rahmatnya berupa malam lailatul qadar yang nilainya sama dengan 1.000 bulan.

“Lalu Allah merespons keresahan Rasulullah SAW, dengan memberi bonus lailatul qadar,” terangnya.

“Umatmu yang usianya pendek itu saya kasih lailatul qadar yang nilainya sama dengan 1.000 bulan,”

Datangnya Malam Lailatul Qadar Menurut Rasulullah SAW

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dikatakan bahwa kita dianjurkan untuk mencari Lailatul Qadar pada malam ganjil dalam sepuluh terakhir bulan Ramadhan.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Artinya, “Dari Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil dalam sepuluh terakhir di bulan Ramadhan,” (HR Bukhari).

Untuk mendapatkan Lailatul Qadar memang tidak mudah. Karenanya tidak semua orang bisa mendapatkannya. Dibutuhkan usaha keras dan tidak kenal lelah untuk selalu meningkatkan intensitas ibadah terutama pada sepuluh akhir di bulan Ramadhan sebagaimana yang dipraktikan Rasulullah SAW. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan hadits riwayat Muslim.

عَنْ الْأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ

Artinya, “Dari Aswad dari Aisyah ra ia berkata bahwa Nabi saw meningkat amal-ibadah pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan melebihi di waktu yang lain,” (HR Muslim).

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Rasulullah SAW mengencangkan kain bawahnya, menghidupkan malamnya dan membangungnkan keluarganya.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ-أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

banner 800x800

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *